Workshop KKM Wilayah 2 menghadirkan tim pengembang Kurikulum Berbasis Cinta tingkat pusat untuk memperkuat implementasi pembelajaran mendalam dan pendidikan yang humanis
6 Poin Utama Kegiatan:
- MAN 2 Parigi menghadirkan tim pengembang Kurikulum Berbasis Cinta tingkat pusat dalam workshop KKM Wilayah 2.
- Workshop berlangsung selama dua hari, 8–9 Agustus 2026, di Aula MAN 2 Parigi dan Aula MIN 1 Parigi.
- Enam madrasah mengikuti kegiatan, yaitu MAN 2 Parigi, MAN 3 Parigi, MTsN 2 Parigi, MTsN 3 Parigi, MTsN 4 Parigi, dan MIN 3 Parigi.
- H. Yakub Djupanda, S.Pd.I., M.Pd. membahas tantangan global pendidikan, kebijakan Kementerian Agama, serta pembangunan pendidikan yang adaptif dan humanis.
- Shofar Sholahudin Bisri memberikan penguatan mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran di madrasah.
- Workshop mendorong pembelajaran yang mendalam, humanis, nyaman, dan bebas dari perundungan melalui penerapan nilai-nilai cinta dalam budaya madrasah.
Sumberagung - Upaya memperkuat kualitas pembelajaran dan menghadirkan pendidikan yang lebih humanis terus dilakukan di lingkungan madrasah. MAN 2 Parigi menghadirkan tim pengembang Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tingkat pusat dalam Workshop Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diselenggarakan dalam lingkup KKM Wilayah 2 Kabupaten Parigi Moutong.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 8–9 Agustus 2026, dengan lokasi kegiatan di Aula MAN 2 Parigi dan Aula MIN 1 Parigi. Workshop diikuti enam madrasah, yakni MAN 2 Parigi, MAN 3 Parigi, MTsN 2 Parigi, MTsN 3 Parigi, MTsN 4 Parigi, dan MIN 3 Parigi.
Kehadiran narasumber dari tingkat pusat menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Langkah MAN 2 Parigi menghadirkan tim pengembang KBC diharapkan dapat memberikan penguatan wawasan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan mengenai arah transformasi pendidikan madrasah.
Dalam sambutannya, H. Muh. Syamsu Nursi, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi terhadap gagasan kepala-kepala madrasah di KKM Wilayah 2, khususnya inisiatif MAN 2 Parigi dalam menghadirkan tim pengembang Kurikulum Berbasis Cinta tingkat pusat.
Ia menilai kehadiran Kurikulum Berbasis Cinta menjadi bagian penting dalam membangun suasana pendidikan yang memberikan rasa aman dan nyaman kepada peserta didik.
Kehadiran guru, menurutnya, harus mampu memberikan rasa nyaman kepada murid, bukan sebaliknya. Ia juga mengimbau agar implementasi KBC dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk mencegah terjadinya perundungan di lingkungan madrasah.
Seluruh peserta juga didorong mengikuti workshop secara maksimal agar materi yang diperoleh dapat diterapkan di madrasah masing-masing.
Pembelajaran Adaptif dan Humanis
Memasuki sesi inti, kegiatan dimoderatori oleh Fadlan, S.Pd., M.Pd.
Narasumber pertama, H. Yakub Djupanda, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan materi bertema “Tantangan Global Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan Kementerian Agama” dengan tema spesifik “Membangun Pendidikan Adaptif, Humanis, dan Berdaya Saing Global.”
Materi tersebut mengajak peserta memahami berbagai tantangan pendidikan di tengah perubahan global serta pentingnya membangun pembelajaran yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan peserta didik menghadapi tantangan masa depan.
Shofar Sholahudin Bisri, Pengembang Kurikulum dan Instruktur Nasional
Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Shofar Sholahudin Bisri. Ia merupakan aparatur Kementerian Agama yang memiliki pengalaman di bidang pengawasan dan pengembangan kurikulum madrasah.
Shofar lahir di Tegal, 13 April 1970 dan saat ini bertugas pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal. Ia berpangkat Pembina Utama Muda (IV/c) dengan latar belakang pendidikan terakhir S2.
Dalam kiprahnya di Kementerian Agama, Shofar mengemban sejumlah tugas strategis, antara lain sebagai Pengawas Madrasah Aliyah, Pengembang Kurikulum Madrasah pada KSKK Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, serta Instruktur Nasional Pembelajaran Mendalam Kementerian Agama RI.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam memberikan penguatan kepada para pendidik mengenai implementasi kebijakan kurikulum dan pengembangan pembelajaran di madrasah.
Dalam workshop KKM Wilayah 2 Parigi Moutong, Shofar Sholahudin Bisri membawakan materi “Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta.”
Materi tersebut menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai cinta dalam proses pendidikan, termasuk dalam hubungan antara guru dan peserta didik serta dalam membangun budaya positif di lingkungan madrasah.
Mendorong Madrasah yang Aman dan Nyaman
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi dapat diterjemahkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, guru diharapkan mampu menciptakan interaksi pembelajaran yang lebih positif, menghargai peserta didik, serta membangun lingkungan madrasah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.
Workshop ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi enam madrasah di bawah KKM Wilayah 2 untuk menyamakan persepsi dan memperkuat kapasitas pendidik dalam menghadapi transformasi pendidikan.
Dengan mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta, madrasah diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, mendalam, adaptif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Bagi MAN 2 Parigi, kehadiran narasumber tingkat pusat dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus membangun kolaborasi dan membuka akses penguatan kompetensi bagi pendidik serta madrasah di wilayah Parigi Moutong.
Kegiatan selama dua hari tersebut diharapkan menjadi momentum untuk membawa semangat Kurikulum Berbasis Cinta dari ruang workshop ke ruang-ruang kelas, sehingga terwujud madrasah yang aman, nyaman, menyenangkan, humanis, dan mampu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan.
